5 Gaya Manajemen Konflik

Konflik adalah terganggunya keseimbangan dari suatu lingkungan karena tindakan dari satu pihak yang mengancam tata nilai, tujuan atau perilaku dari pihak lain. Konflik tidak selalu berarti hal yang buruk. Kenyataannya di dalam hidup semua kita akan mengalami konflik. Konflik biasanya muncul karena ancaman atau pertengkaran atas teritori, harapan yang tidak terpenuhi, kepemimpinan dan administrasi yang keliru dan juga benturan sikap dan kepribadian. Konflik yang ada perlu diselesaikan dengan tepat. Maka itu pengetahuan mengenai gaya manajemen konflik sangat dibutuhkan agar kita mengerti apa yang seharusnya kita lakukan dalam situasi-situasi tertentu.

5 Gaya Manajemen Konflik

Gaya manajemen konflik terbagi menjadi 5 yaitu menghindar seperti kura-kura, berkompetisi seperti hiu, mengakomodasi seperti beruang, bekerjasama seperti burung hantu, dan juga berkompromi seperti serigala. Salah satu di antara kelimanya tidak ada yang lebih unggul satu sama lain, kita tidak perlu berbangga hati ataupun merasa tertuduh menjadi salah satu di antaranya karena ini bukanlah berbicara mengenai karakter, namun gaya manajemen konflik. Semua gaya manajemen konflik benar dan tepat jika diterapkan pada situasi yang tepat dan sesuai dengan permasalahan yang terjadi terkait pengaruh jangka panjang atau jangka pendek masalah, dengan siapa kita berkonflik, dan keputusan seperti apa yang diperlukan dalam situasi tersebut. Maka jika kita berasumsi "saya selalu berperilaku seperti beruang dalam segala keadaan dan itulah yang seharusnya dilakukan", kita perlu pelajari hal ini.
Importance of relationship or goals?

Kelima manajemen konflik merupakan kombinasi dari sudut pandang kepentingan hubungan dan tujuan. Seperti gaya manajemen menghindar kura-kura yang menunjukkan kepentingan hubungan dan juga tujuan yang rendah, gaya manajemen beruang yang lebih menunjukkan kepentingan hubungan yang tinggi namun tujuan yang rendah, gaya manajemen burung hantu yang mendukung kepentingan hubungan dan tujuan secara bersamaan, gaya manajemen hiu lebih mementingkan tujuan dibanding hubungan, berbeda dengan gaya manajemen serigala yang menyeimbangkan kepentingan hubungan dengan tujuan. Sekali lagi hal ini bukan merupakan karakter yang mengurutkan gaya manajemen seperti apa yang paling baik, namun semuanya baik jika diterapkan dalam situasi dan kondisi yang tepat. Dari penjelasan ini, mari kita lihat secara terperinci keadaan yang cocok untuk menerapkan setiap gaya manajemen konflik dalam kehidupan kita sehari-hari :

Gaya Manajemen Konflik Withdrawing (Menghindar) - Kura-kura

Gaya manajemen konflik ala kura-kura adalah menghindar. Tindakan yang dilakukan lebih kepada tidak memaksa dan bersikap pasif. Niatnya adalah menolak untuk terlibat konflik, bersikap netral dan tidak berpihak kepada siapapun. Jika ini gaya manajemen konflik yang sering anda gunakan, mari renungkan sejenak. Kepada siapa saja anda menerapkan gaya manajemen konflik? Mungkin tampaknya baik dan menenangkan, mengesampingkan konflik dan mengusahakan keadaan tetap damai. Namun gaya manajemen konflik ini memberikan kepentingan tujuan yang rendah dan juga hubungan yang rendah, karena konflik tidak diselesaikan namun dihindari.

Gaya manajemen konflik menghindar cocok diterapkan jika masalah yang dihadapi merupakan masalah yang remeh, tidak berdampak pada sasaran jangka panjang baik itu hubungan maupun tujuan yang akan dicapai bersama. Menghindar juga cocok jika pihak yang berkonflik dengan kita adalah pihak yang tidak dewasa secara intelektual (tidak mau diberitau, seseorang yang ditemui di jalan dan tidak kita kenal, bertingkah dengan emosional). Dan juga bila perbedaan sudah tidak dapat dipertemukan kembali dan bila dilakukan konfrontasi tidak ada hasilnya. Maka bila orang ini merupakan orang yang memiliki relasi baik dengan anda dan rekan sekerja dalam melakukan aktivitas bersama anda dan melibatkan suatu masalah yang perlu diselesaikan adalah sangat tidak tepat jika kita memilih untuk tetap mempertahankan gaya manajemen konflik seperti ini. Bisa-bisa niatan kita untuk bersikap netral dan tidak berpihak malah menjadi bumerang bagi kita yang seharusnya mengambil tindakan. Jadi gaya manajemen konflik menghindar merupakan gaya manajemen konflik yang baik jika diterapkan dalam situasi yang sesuai dengan penjelasan di atas.


Selanjutnya gaya manajemen konflik ala beruang adalah mengakomodasi. Tindakan yang dilakukan lebih kepada merangkul setiap orang dalam konflik. Niatnya adalah mempertahankan relasi. Jika ini gaya manajemen konflik yang sering anda gunakan, mari renungkan sejenak. Dalam permasalahan seperti apa saja anda menerapkan gaya manajemen konflik ini? Mungkin tampaknya baik dan menenangkan, pilihan yang sangat bijak rasanya. Gaya manajemen konflik ini memberikan kepentingan hubungan yang tinggi namun tujuan yang rendah .

Lain halnya dengan gaya manajemen konflik ala hiu yaitu berkompetisi. Tindakan yang dilakukan lebih kepada memaksa dna menguasai baik secara halus maupun kasar. Niatnya adalah menang. Dalam kondisi seperti apa saja anda menerapkan gaya manajemen konflik ini? Gaya manajemen ini baik dilakukan ketika keputusan dan tindakan harus cepat diambil, cocok untuk keadaan darurat dimana orang-orang tidak mengetahui dampak buruk maupun baik namun membutuhkan tindakan terbaik secepatnya. Keputusan ini perlu dibuat oleh pimimpin dengan kepercayaan bahwa kaputusannya adalah yang terbaik dan sangat penting bagi kelompok. Gaya manajemen konflik ini memberikan kepentingan hubungan yang rendah namun tujuan yang tinggi .


Berikutnya adalah gaya manajemen konflik ala burung hantu yaitu bekerjasama. Tindakan yang dilakukan lebih kepada mengembangkan sikap saling menghargai, komunikasi terbuka dan partisipasi penuh dari semua pihak untuk mencapai solusi bersama. Niatnya adalah mencapai solusi menang untuk semua pihak. Gaya manajemen konflik ini cocok digunakan untuk mayoritas konflik terutama dalam hal-hal yang menyangkut sasaran dan relasi jangka panjang. Gaya manajemen ini melibatkan semua pihak untuk ambil bagian dalam memutuskan hingga tercapai kata sepakat. Gaya manajemen konflik ini memberikan kepentingan tujuan yang tinggi dan juga hubungan yang tinggi.


Yang terakhir, gaya manajemen konflik ala serigala yaitu dengan kompromi. Tindakan yang dilakukan lebih kepada negosiasi dimana setiap pihak memenuhi tuntutan dari pihak lain dan di satu sisi mendapatkan hak juga sesuai keinginannya. Niatnya adalah memberi semua pihak sebagian kemenanga dan juga kekalahan. Gaya manajemen ini menyediakan tempat bagi kita untuk merasakan keadilan sekaligus mengalah terhadap pihak lawan. Hal ini cocok dilakukan apabila penyelesaian ala burung hantu tidak dapat tercapai dikarenakan kedua pihak sama-sama membela kepada sasaran yang berbeda, lalu sasaran dari kedua pihak sama-sama bernilai dan perbedaan yang terjadi tidak layak untuk dipertengkarkan. Dalam hal sengketa yang dapat dibagi maupun dipertukarkan, gaya manajemen ini juga dapat diterapkan. Gaya manajemen konflik ini berada di tengah-tengah antara kepentingan tujuan maupun hubungan di antara kedua belah pihak.


Dari sini kita dapat simpulkan kembali bahwa setiap gaya manajemen konflik semuanya baik jika dilakukan sesuai dengan kondisi dan situasi. Di atas ini merupakan salah satu contoh penerapan gaya manajamen konflik yang tepat sesuai dengan keadaannya. Tindakan kompetisi ala hiu cocok dalam permasalahan keputusan dokter ketika pasien kritis di meja operasi untuk menyelamatkan kondisi pasiennya, bayangkan jika di meja operasi dokter lebih memilih menghindar atau mengajak diskusi berkaitan hal-hal yang tidak dimengerti oleh pihak keluarga pasien. Namun dalam kondisi tenang dan merencanakan suatu rangkaian panjang mengenai suatu organisasi yang sangat mengutamakan keutuhan dan tercapainya tujuan, maka gaya manajemen kerjasama ala burung hantu tepat untuk dilakukan. Jika dalam perencaan tersebut terdapat hal-hal yang berbeda orientasi dan masih merupakan hal-hal yang positif, maka gaya manajemen bisa diubah ke dalam gaya manajemen kompromi ala serigala untuk menyeimbangkan dua orientasi yang berbeda tersebut untuk tetap berjalan bersama. Lain halnya dengan gaya manajemen akomodasi yang bisa diambil contoh ketika kita diajak orang terdekat menjadi pendukung perkelahian mereka. Gaya manajemen ini bisa menjadi penenang dan peredam pertikaian bagi orang terdekat kita dan membantu mereka menyelesaikan masalahnya. Yang terakhir, gaya manajemen menghindar ala kura-kura cocok digunakan jika kita diajak berkelahi orang yang tidak dikenal untuk hal-hal yang kurang penting, untuk apa diladeni?

Nah itulah 5 gaya manajemen konflik yang dapat membantu kita menyelesaikan konflik dengan baik sesuai dengan permasalahan yang terjadi.

Comments

  1. Casino Site Review - Lucky Club Live Casino 2021
    Find out what luckyclub makes Lucky Club's experience such an incredible experience. Read our online review to find out more about the casino site's welcome offer! Rating: 4 · ‎Review by LuckyClub

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts